Sebuah Penantian
Kugoreskan penaku dalam kertas putih seperti cintaku padamu. Kulayangkan dengan penuh harap setinggi langit dan sedalam lautan. Walau aku sadari itu semua percuma. Apakah dayaku..hanya itulah yang sanggup aku lakukan untuk mengobati rasa rinduku padamu yang tak bertepi….
Datanglah, Sayang!!
Sesungguhnya semua gugur oleh bunga
Setapa demi setapak tlah kujalani
Apalagi yang tinggal? Kesunyian?
Tangan-tangan yang menggapai dan melambai
Dan kata saat mengucap “SELAMAT TINGGAL”
Tak lagi bermakna dalam ucapan yang kekal
Ketika kita berucap “DATANGLAH SAYANG”
Ketika itu terasa damai..
Damainya kijang dan kembang, Damai gunung dan langit
Damai air yang bening, Damai embun yang jatuh dari daun
Damai tidur yang abadi, Damai burung-burung merpati
Apa yang lebih tinggi dari jiwa, kasih dan cinta?
Lalu butir demi butir kita teliti, Pada rumit hati, hati yang penyayang
Kau berkata tentang kelemahan?
Bertahan dengan hati bukanlah kelemahan
Tiada lagi yang berpijak, Bumi yang riuh dan sunyi
Tak ada yang mampu mengerti, Jalan kelembah hakekat
Melainkan hati yang lembut dan penyayang
Malam ini bumi kian mengecil
Terlempar kelembah kesunyian
Dari sini hati yang lembut kian berkembang
Menyatu dengan jagad dalam tunggalnya yang damai dan sepi
Damai bagai buaian bayi, terjamah tangan bunda yang lembut
Dan berkata “DATANGLAH SAYANG”
Melalui puisi itu aku selalu berharap kau akan datang memenuhi panggilan alam dan nurani yang tersiksa oleh pedihnya penderitaan akan cinta


0 komentar:
Posting Komentar
Bagaimana Menurutmu tentang Blog ini...???